Mengapa Harus Cuci Darah

Dalam kondisi normal, ginjal berperan sebagai saringan dalam tubuh manusia. Ginjal menyaring zat-zat di dalam darah. Zat berguna akan dibuang bersama urine. Namun, ginjal bisa saja rusak akibat penggunaan obat dalam jangka lama, hipertensi, atau akibat lain yang mengganggu fungsi   ekskresi oleh ginjal. Ginjal yang rusak mengakibatkan terjadinya penumpukan zat racun dan cairan di dalam tubuh sehingga fungsi ginjal sementara harus digantikan dengan alat. Tindakan ini dikenal dengan cuci darah atau hemodialysis. Cuci darah tidak bertujuan mengembalikan fungsi ginjal yang rusak. Hemodialysis bisa berlangsung dalam jangka panjang, tetapi dalam kondisi tertentu, bisa juga dilakukan hanya sekali seperti kasus penumpukan garam kalium dalam darah, gangguan keasaman darah dan penumpukan cairan secara mendadak.

Proses pencucian darah dilakukan dengan menarik darah ke mesin dialyzer. Mesin akan membuang zat yang tidak dibutuhkan, sebaliknya mempertahankan zat yang berguna, kemudian mengembalikan ke dalam tubuh. Proses cuci darah berlangsung selama tiga sampai lima jam. Pada kondisi gagal ginjal yang sudah parah, hemodialysis dapat dilakukan dua hingga tiga kali seminggu.

Walaupun hemodialysis dapat menggantikan fungsi ginjal yang rusak, hemodialysis tidak menjadi satu satunya jawaban untuk mengatasi gagal ginjal. Penderita seyogyanya mencegah penumpukan cairan dalam tubuh dengan membatasi cairan yang masuk ke dalam tubuh  dalam  jumlah minimal. Penumpukan cairan dalam tubuh bisa mengakibatkan  pembengkakan di seluruh badan terutama kaki dan kelopak mata. Apabila penumpukan cairan terjadi di paru-paru, bisa mengakibatkan batuk hingga sesak napas.

Penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialysis juga harus membatasi makanan berkalium tinggi seperti pisang, jeruk, cokelat dan kacang-kacangan. Kelebihan kalium dalam darah seharusnya akan dibuang melalui urin. Kalium yang terlalu tinggi  dalam darah memiliki efek berbahaya bagi jantung. Selain, itu diperlukan kontrol terhadap konsumsi garam karena konsumsi garam juga dapat meningkatkan penumpukan cairan dalam tubuh. Pada penderita gagal ginjal kronis, fungsi ginjal lain juga bisa ikut terganggu, seperti terfanggunya fungsi hormonal dalam memproduksi sel darah merah. Akibatnya, penderita gagal ginjal juga sering mengalami anemia.

Walaupun hemodialysis merupakan tindakan yang tampaknya menakutkan, tindakan ini diperlukan  untuk memperpanjang harapan hidup penderita. Dengan kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi, proses cuci darah relatif aman bila dilakukan dengan prosedur yang benar. Walaupun ada potensi komplikasi ini jarang terjadi dan bisa diatasi.

 

sumber: artikel RS. St Carolus oleh Dr. Immanuel Natanael Tarigan, di harian kompas tgl. 17 Desember 2017

Related posts

Leave a Comment