Pengobatan Hepatitis C Terbaru

Terapi terbaru hepatitis C kronik memang merupakan suatu terobosan dalam bidang kedokteran. Terapi baru yang disebut direct acting antiviral (DAA) mampu menghambat virus hepatitis C sehingga tidak bertambah banyak. Obat ini bekerja mirip obat ARV pada infeksi HIV. Virus hepatitis C (HCV RNA) tidak lagi terdeteksi pada sekitar 90 % lebih pengguna obat DAA ini setelah 3 bulan. Bedanya dengan HIV, meski viral load HIV sudah tidak terdeteksi, obat ARV tidak boleh dihentikan. Namun pada hepatitis C obat DAA dapat dihentikan, dengan kata lain hepatitis  C nya di nyatakan sembuh.

Persiapan untuk memakai obat DAA ini adalah Anda harus memahami manfaat dan efek samping obat ini dengan baik. Anda sudah tentu perlu berkonsultasi  kepada pakar hepatologi atau dokter penyakit dalam. Selain fisik, dokter biasanya perlu memeriksa anti -HCV(untuk memastikan Anda memang terkena hepatitis C). HCV RNA yang menggambarkan jumlah RNA virus hepatitis C dalam tubuh Anda, dan genotipe hepatitis C yang diperlukan untuk memilih obat yang sesuai.

Pemeriksaan laboratorium rutin juga diperlukan, seperti hemoglobin, SGOT/SGPT (menilai fungsi hati), serta ureum, kreatinin (untuk menilai fungsi ginjal).Selain itu, keadaan hati Anda juga perlu diperiksa dengan alat Fibroscan. Jika semua sudah lengkap, akan diputuskan apakah  Anda sudah harus segera minum obat atau dapat menundanya karena keadaan hati Anda mungkin masih relatif baik. Untuk penderita yang juga terinfeksi HIV (disebut ko-infeksi HIV), pengobatan ARV perlu diberikan.

Dokter akan mempertimbangkan apakah obat DAA akan diberikan sebelum atau sesudah memulai ARV. Jika keadaan HIV belum lanjut (CD4 tinggi), mungkin lebih baik memulai obat hepatitis C dulu. Penggunaan obat ARV bersamaan dengan DAA harus mempertimbangkan interaksi obat. Jika ada interaksi, penggunaan obat secara bersamaan dapat mengakibatkan kadar obat saling turun atau sebaliknya. Namun, jika perlu obat ARV dipakai bersama DAA juga tidak apa, dokter akan memilih kombinasi yang kemungkinan interaksinya sedikit atau melakukan modifikasi dosis. Lama terapi biasanya memang tiga bulan, tetapi jika sudah terjadi sirosis hati penggunaan DAA perlu 6 bulan. Untuk jelasnya, dokter Anda akan menjelaskan karena dia yang mengetahuisecara rinci data pribadi Anda. Yang diinformasikan ini hanya secara garis besar.

Setelah selesai pengobatan diperiksa HCV RNA lagi. Jika sudah tidak terdeteksi, obat dihentikan, tetapi untuk meyakini bahwa HCV RNA memang benar-benar tidak terdeteksi secara menetap, maka diulang 3 bulan lagi. Meski kemungkinan keberhasilan amat tinggi, terjadi gagal terapi dan dokter mungkin akan mencari kombinasi DAA yang lain.

Berapa harga obat DAA?? Harganya amat mahal, pernah saya informasikan di negara maju kombinasi obat DAA selama tiga bulan mencapai sekitar 70.000 dollar AS jadi sekitar Rp.900 juta. Wah, mahal sekali! Untunglah Indonesia termasuk negara yang dapat mengakses obat ini dengan murah, baik dalam bentuk patent maupun bentuk generik. Di Indonesia harga obat sofosbuvir patent hanya sekitar 900 dollar AS (padahal obatnya sama dengan yang dipakai di Amerika). Obat sofosbuvir perlu dikombinasikan dengan obat DAA lain sehingga total harganya sekitar Rp.18 juta (termasuk pajak dan lain-lain).

Obat DAA belum dijamin BPJS sehingga peserta BPSJ belum dapat memperoleh obat gratis. Namun, ada kabar gembira Kementrian Kesehatan tahun 2017 ini menyediakan obat DAA subsidi penuh atau gratis untuk sekitar  6.000 orang. Jika Anda ingin memperoleh obat tersebut. Anda perlu menghubungi rumah sakit terdekat. Pemerintah pada tahap awal akan menyediakan di rumah sakit pendidikan atau rumah sakit provinsi. Subsidi obat DAA ini belum disertai dengangan subsidi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan dokter. Namun, subsidi ini sudah amat meringankan karena harga yang harus dibayar oleh penderita yang semula 18 juta turun menjadi hanyaRp.5 juta – Rp.6 juta saja.

Hepatitis C dapat menular melalui hubungan seksual meski risiko penularannya rendah. Ada baiknya istri Anda juga menjalani tes anti-HCV. Tes ini sederhana sana dan harga tesnya juga tak mahal. Siapa saja yang perlu menjalani tes hepatitis C? Kekerapan hepatitis C  di negeri ini sekitar 1 %. Tes hepatitis C dianjurkan terutama untuk mereka yang pernah menggunakan narkoba suntikan dan yang mempunyai pasangan hepatitis C. Setiap orang boleh saja menjalani tes hepatitis C untuk mengetahui apakah dia tertular hepatitis C atau tudak. Namun, pemerintah atas pertimbangan manfaat dan biaya, merekomendasikan tes ini untuk mereka yang berisiko tinggi.

 

Sumber artikel adalah kolum kesehatan koran Kompas,mengenai jawaban DR.SAMSURIDJAL DjAUZI atas pertanyaan seseorang yang menderita hepatitis C. dan mendapat jawaban dari dokter mengenai adanya Pengobatan Hepatitis C Terbaru.

 

Related posts

Leave a Comment